Keboen Kopi Karanganjar, Rujukan Turis Internasional Belajar Seluk Beluk Kopi

Jameela, salah satu wisman asal Inggris di Keboen Kopi Karanganjar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Jameela, salah satu wisman asal Inggris di Keboen Kopi Karanganjar.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

PACITANTIMES, BLITAR – Kabupaten Blitar memiliki daya tarik tersendiri untuk wisata. 

Salah satunya Keboen Kopi Karanganjar, terletak di Dusun Karanganyar, Desa Modangan, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Bitar. 

Di tempat ini mata kita dimanjakan dengan suasana asri, dan tentunya perkebunan kopi.

Kopi merupakan minuman yang sangat digemari masyarakat, karena kopi dinilai memiliki rasa yang khas dan dapat membangkitkan energi, terutama saat lelah dan ngantuk.

Cita rasa kopi tidak hanya  berasal dari biji kopi yang berkualias, keahlian dalam meracik kopi pun menjadi salah satu alasan mengapa kopi terasa nikmat. 

Di Keboen Kopi Karanganjar ini pengunjung bisa belajar tentang pengolahan kopi mulai dari pembibitan hingga pengolahan menjadi kopi siap saji. Dan tentunya bisa menikmati kopi asli Blitar, Robusta dan Excelsa.

Berdiri sejak tahun 1874 di era kolonial Belanda, Keboen Kopi Karanganjar telah dikenal oleh masyarakat internasional. 

Hal ini nampak dari banyaknya wisatawan asing yang berkunjung ke tempat ini. 

Uniknya, mereka tidak melancong biasa, melainkan ikut ‘magang’ di tempat yang dominan dengan arsitektur ala negeri kincir angin ini.

Magang atau volounteer, di Keboen Kopi Karanganjar ini para turis selain merasakan sensasi meracik kopi dan menyajikannya kepada pengunjung, juga diajak mengajar bahasa Inggris bagi anak-anak yang tinggal sekitar perkebunan.

Rata-rata mereka menginap sekitar 1 hingga 2 minggu.

“Sebenarnya tujuan saya ini ingin membuka jaringan seluas-luasnya hingga dunia internasional. Karena hari gini kalau berbisnis kita mau gak mau udah masuk era globalisasi maka harus bisa berhubungan dengan dunia luar. Supaya kita tidak hanya menjadi bangsa pembeli produk mereka. Tapi kita bisa memasarkan produk kita. Ini juga salah satu cara kami memperkenalkan Blitar ke dunia luar,” ungkap Direktur Utama Keboen Kopi, Karanganyar, Wima Brahmantya, Minggu (3/3/2019).

Berarsitektur kolonial belanda ditambah hawa udara pegunungan yang sejuk, pengunjung serasa dibawa kembali ke era Indonesia lama saat berwisata ke tempat ini. 

Begitu pun dengan para wisatawan mancanegara, mereka sangat menikmati kunjungan ke Keboen Kopi Karanganjar. 

Jameela (24), salah satu wisman asal Inggris, mengaku dia sengaja memilih Indonesia sebagai tujuan karena traveling dikarenakan alam Indonesia yang indah dan masyarakatnya yang ramah. 

Sebelum ke Blitar, dia sudah singgah ke beberapa daerah, diantaranya Jakarta, Tangerang dan Tulungagung. 

Rencananya, Jameela akan bermukim selama dua minggu di kebun kopi milik mantan Bupati Blitar Herry Nugroho ini. 

“Saya datang ke Blitar secara khusus memang belajar tentang kopi. Saya sengaja memilih Blitar karena daerah ini belum terlalu banyak turis. Saya sengaja menghindari tempat-tempat yang banyak turis karena ingin mencari ketenangan,” ujarnya.

Alasan Jameela belajar kopi karena kopi merupakan minuman favoritnya. Dia juga mengaku pernah bekerja di café. Tapi, dia belum pernah melihat pohon kopi. 

Hal ini karena di Negara Inggris, kopi seluruhnya diimpor dari Negara lain seperti Ethiopia, Kolombia dan Brazil. 

Kopi Indonesia belum terlalu banyak ditemukann di Inggris, hal inilah yang mendorong Jameela termotivasi belajar seluk beluk kopi ke Indonesia.

“Di Inggris itu budaya populernya bukan budaya minum kopi, tapi budaya minum teh. Minum kopi di Inggris baru populer di kalangan anak-anak muda,” terang cewek asal London ini.(*)

Pewarta : Aunur Rofiq
Editor : Heryanto
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Blitar TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pacitantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pacitantimes.com | marketing[at]pacitantimes.com
Top