Trauma-trauma yang Bisa Jadi Dialami oleh Pemeran Wanita dalam Video Mesum Banyuwangi Menurut Pakar Psikologi

Meme yang beredar pasca tersebarnya video mesum Banyuwangi. (Foto istimewa)
Meme yang beredar pasca tersebarnya video mesum Banyuwangi. (Foto istimewa)

PACITANTIMES, BANYUWANGI – Belum lama ini, viral video mesum yang dilakukan seorang YouTuber yang berstatus sebagai mahasiswa asal Banyuwangi dengan perempuan yang masih duduk di bangku SMP di media sosial Twitter dan WhatsApp.

Video yang diambil dalam sebuah kamar itu ada 3 adegan mesum dengan 3 durasi yang berbeda. Mulai dari berdurasi 2 menit 20 detik, 1 menit 39 detik, dan 1 menit 33 detik. Keduanya bergantian merekam adegan itu dengan kamera handphone.

Video adegan panas sepasang kekasih itu kemudian menjadi perbincangan netizen lantaran menyebar di sejumlah situs gosip. Saking viralnya, wajah pelaku dalam video itu sampai dijadikan meme. Komentar netizen pun beragam. Hujatan-hujatan dari netizen yang maha benar pun tak dapat dihindari.

Netizen memaki, mencerca, dan menghujat tanpa melihat bagaimana tantangan yang dihadapi oleh remaja itu. Yang perlu disadari, belum tentu pemeran perempuan yang masih duduk di bangku SMP tersebut tidak mengalami trauma ketika mendapatkan hujatan se-Indonesia Raya.

Hal ini dinyatakan oleh Pakar Psikologi Perkembangan Anak dan Keluarga Dr Elok Halimatus Sadiyah MSi dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang).

Dikatakan Elok, remaja sangat mudah untuk dipengaruhi oleh pendapat orang lain, baik itu pendapat yang positif maupun pendapat yang negatif. "Kalau se-Indonesia Raya menghujat dia, kita bisa bayangkan seperti apa trauma yang dialami oleh remaja itu, apalagi didukung oleh misalnya dia diblacklist oleh semua SMA yang ada di kotanya," ujarnya.

Menurut kabar yang beredar, pemeran perempuan dalam video itu diblaklist dari seluruh SMA di Banyuwangi. Sedangkan pemeran laki-laki di-DO dari universitas. Keduanya juga dinonaktifkan dari duta daerah di Banyuwangi, Jebeng Thulik. "Saya kira itu tidak tepat karena tidak harus seperti itu. Harusnya dia direhabilitasi, harusnya dia didampingi, harusnya dia  direedukasi," ungkap Elok.

Dikatakan Elok, tidak seharusnya anak yang sudah melakukan kesalahan, semakin dimasukkan ke lubang buaya hingga akhirnya dia tidak memiliki harapan masa depan apapun. "Seperti misalnya seorang manusia melakukan kesalahan. Ya memang dia salah, dia harus tahu konsekuensinya. Namun dia seharusnya juga masih berhak untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik ke depannya," ucapnya.

Dalam kasus video Banyuwangi yang sudah tersebar masif ini, tidak ada yang bisa 'menyetop' komentar netizen. Sebab memang, susah dibendung apabila sudah ada di medsos.

Jadi, lanjut Elok, perlu ada campur tangan dari pemerintah. Misalnya, jika video itu masih tersebar pemerintah harusnya langsung memblokir agar tidak semakin meluas.

Tingkat trauma pemeran perempuan dalam video itu sendiri sangat bergantung dari bagaimana kekuatan mental dia. Selain itu juga bergantung bagaimana support dari keluarga atau orang-orang terdekatnya. "Kalau orang terdekatnya itu juga menghujat dia, habis dia," tandasnya.

Pemeran perempuan dalam video itu bisa jadi menjadi orang yang sangat depresi. Lebih parahnya, dia juga bisa jadi akan melakukan over-kompensasi karena sudah sangat tidak kuat menghadapi hujatan-hujatan seperti itu. "Dia kemudian akan mematikan super egonya. Dia akan mematikan nalurinya. Dia akan mematikan perasaannya agar supaya dia tidak terlalu sakit ketika dihujat seperti itu," terang Elok.

Biasanya kalau sudah seperti itu, dia akan menjadi orang yang tidak punya perasaan dan kemudian menjadi orang yang sulit untuk diajari. Dengan cara ini, dia tidak menggunakan perasaannya karena kalau dia menggunakan perasaannya dia akan sakit.

Jadi ada dua kemungkinan yang dialaminya. Pertama, mungkin dia menjadi sangat depresi dan kalau sampai berlebihan itu bisa ada aspirasi bunuh diri. "Namanya anak masih kecil. Secara biologis mungkin dia sudah dewasa tapi secara psikologis dia masih beranjak menuju remaja. Apalagi kalau masih SMP, itu ya masih sangat labil," bebernya.

Kedua, dia akan berubah. Sebab dia harus survive dan adaptif dengan kondisi seperti ini sehingga dia akan menjadi pribadi yang berbeda. Dijelaskan Elok, bisa jadi dia akan menjadi pribadi yang menghilangkan kepekaan emosinya sehingga kemudian ketika ada hujatan dan sebagainya dia tidak merasa sakit.

"Itu dua-duanya nggak bagus. Yang kedua itu malah dia akan menjadi orang yang jauh lebih buruk dari yang sebelumnya. Dia akan EGP (Emang Gue Pikirin). Kemudian dia akan melakukan perilaku-perilaku yang jelas sangat tidak baik. Karena bentuk dari kompensasi kesakitan sakit hatinya. Secara psikologis dia luka batinnya," jelasnya.

"Karena kalau orang mengalami luka batin itu mesti ingin diekspresikan pada sesuatu. Itu memicu perilaku-perilaku dia yang tidak benar lainnya. Jadi dua-duanya nggak bagus," imbuh Elok.

Jadi, ditegaskan Elok, anak itu harusnya didampingi, direedukasi ulang, dan dilihat lagi mengapa secara moralitas dia seperti itu dan berani melakukan itu.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : A Yahya
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Banyuwangi TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pacitantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pacitantimes.com | marketing[at]pacitantimes.com
Top