Lengang, Kebun Binatang TWSL Probolinggo Raup Puluhan Juta

Pengunjung anak-anak sedang melihat binatang koleksi Kebun Binatang Mini (TWSL) Kota Probolinggo. (Agus Salam.Jatim TIMES)
Pengunjung anak-anak sedang melihat binatang koleksi Kebun Binatang Mini (TWSL) Kota Probolinggo. (Agus Salam.Jatim TIMES)

PACITANTIMES, PROBOLINGGO – Kebun Binatang Mini atau Tempat Wisata Studi Lingkungan (TWSL) Kota Probolinggo sepi. Jalan di depan TWSL, yang biasa ditutup untuk parkir setiap kali liburan, tampak kosong. Termasuk liburan Lebaran tahun ini yang berlangsung dari 5 sampai dengan 9 Juni 2019.

Kendaraan dari barat ke timur atau sebaliknya lancar seperti hari-hari biasa. Suasana di dalam kebun binatang mini pun relatif lengang dan pengunjung tidak sampai berdesak-desakan saat di pintu masuk.
 

 Rata-rata pengunjung dipenuhi anak-anak. Salah satu pengunjung Mahfud (39) berterus terang, libur Lebaran tahun ini, TWSL relatif sepi dibandingkan tahun sebelumnya .

Pria asal Desa Sumbersuko, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, itu memgatakan  tahun sebelumnya, ia bersama keluarganya berlibur Lebaran di tempat wisata itu juga. “Menurut saya sih lebih ramai dulu. Sekarang agak sepi. Karena Lebaran sebelumnya, kami ke sini juga bersama keluarga,” ungkapnya.

Hanya, Mahfud tidak mengetahui pasti penyebab sepinya TWSL sekarang. Namun menurut perkiraannya, karena penghuni TWSL hanya itu-itu saja alias tidak ada perkembangan. Sehingga, masyarakat enggan berlibur lagi ke TWSL. “Menurut saya, itu penyebabnya. Makanya kami menyarankan agar jenis dan jumlah binatangnya ditambah,” pintanya.
 

Petugas pintu masuk TWSL enggan bekomentar soal sepi atau ramainya pengunjung. Wartawan dipersilakan menghubungi langsung kabid TWSL atau kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Ke atasan kami saja pak. Kami tidak berani komentar. Takut salah,” pinta petugas tersebut.

Sementara itu, Kepala DLH Budi Krisyanto menguarakan, pengunjung TWSL tidak sepi, tetapi ada peningkatan sedikit dibanding lebaran tahun lalu. Hanya, ia tidak menjelaskan berapa persen peningkatannya. “Katanya siap sepi. Enggak lah. Meningkat kok pengunjungnya,” tandas pria yang biasa dipanggil Budikris tersebut, Senin (10/6) pagi.

Ia kemudian mengirim jumlah pengunjung dan hasil pendapatan dari tiket masuk dan ongkos flying fox serta asuransi. Disebutkan, TWSL pada 6 Juni 2019, jumlah pengunjung adalah 417 dewasa dengan hasil penjualan tiket Rp 3.177.500. Selain itu, ada 247 pengunjung anak-anak dengan pendapatan tiket Rp 1.111.500. 

Jumlah keseluruhan pengunjung 664 orang dengan penghasilan Rp 4.289.000 ditambah pendapatan flying fox 4 orang Rp 40.000.

Hari kedua 7/06/2019, pengunjung dewasa 418 orang dengan pemasukan  Rp 3.135.000, anak-anak 225 dengan penghasilan tiket Rp 1.012.500. Jumlah total 643 dengan pendapatan Rp 4.147.500 plus penghasilan asuransi  Rp 321.500.
 

Hari ketiga 8/06/2019, pengunjung dewasa 545 orang dengan penghasilan Rp 4.087.500, anak-anak 362 dengan hasil tiket  Rp 1.629.000. Jumlah total pengunjung 907 dengan pendapatan Rp 5.716.500, asuransi Rp 453.500 dan flying fox 19 orang Rp 190.000.

Sampai Minggu siang tanggal 9/6/2019, pengunjung dewasa 300 dengan pendapatan tiket Rp 2.250.000, anak-anak 260 dengan pemasukan Rp 1.170.000. Jumlah total pengunjung 560 dengan hasil penjualan tiket Rp 3.420.000.

Jadi, penghasilan dari 5 sampai 9 (selama liburan), pengujung dewasa 2.059 orang dengan pendapatan Rp 15.442.500, anak-anak 1.318 orang dengan pemasukan Rp 5.931.000. Jumlah total pengunjung 3.377 orang = Rp 21.373.500, asuransi Rp 1.688.500 dan flying fox 45 orang Rp 450.000.

Budikris menjelaskan, pelayanan pengunjung terus ditingkatkan sesuai fungsi TWSL sebagai salah satu lembaga konservasi. Sedangkan  kesejahteraan satwa terus ditngkatkan dan mendapat apresiasi dari kepala BKSDA Jatim bahwa satwa di TWSL terlihat sehat-sehat, terutama rusa yang terus berkembang

“Rusa diagendakan dilepas ke alam bebas. Penambahan satwa saat ini sedang proses penyiapan kiriman dari lembaga konservasi lain berupa harimau Benggala. Untuk kandang sudah siap dan sudah diperiksa oleh BKSDA,” pungkasnya.

Pewarta : Agus Salam
Editor : Yunan Helmy
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Probolinggo TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pacitantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pacitantimes.com | marketing[at]pacitantimes.com
Top