Inovasi Buatan Mahasiswa FMIPA UB Membuat Kaca Tetap Dingin dan Bersih

Dari Kiri ke Kanan: Janssen Wongkalanujaya, Safira Rachmaniar, dan Safira Rachmaniar (Foto istimewa)
Dari Kiri ke Kanan: Janssen Wongkalanujaya, Safira Rachmaniar, dan Safira Rachmaniar (Foto istimewa)

PACITANTIMES, MALANG – Kaca merupakan material yang umum digunakan pada rumah, gedung, kendaraan, dan berbagai macam alat baik sebagai penutup dan pelindung. Kaca pada gedung pencakar langit sering terpapar sinar matahari, akibatnya peningkatan suhu pada ruangan berdampak pada penggunaan pengkondisi ruangan berupa air conditioner (AC).

Penggunaan AC yang begitu banyak memicu kenaikan penggunaan energi yang menyebabkan terjadinya pemanasan global. Penggunaan kaca juga tidak lepas dari kegiatan pembersihan yang dilakukan oleh tenaga profesional.

Mahalnya biaya dan tingginya angka kecelakaan kerja juga menjadi permasalahan tersendiri.

Berasal dari permasalah tersebut, tiga mahasiswa Jurusan Fisika FMIPA UB, yaitu Janssen Wongkalanujaya, Safira Rachmaniar,dan Dhafi Alvian Nugraha dibimbing Dr. Eng. Masruroh, M.Si, membuat pelapis kaca pendingin dan swabersih. Dengan perlakukan plasma nitrogen pada lapisan TiO2, kaca bersifat dingin dan tetap bersih.

"Cara kerjanya memanfaatkan sifat fotokatalis dan sifat superhidrofilik pada lapisan. Sifat super hidrofilik berperan sebagai penurun suhu pada gedung. Sedangkan sifat fotokatalis memberikan efek degradasi partikel, bakteri, dan virus sehingga kaca tetap bersih. Untuk deteksi penurunan suhu dengan prototype gedung yang kami buat, menggunakan adruino nano dengan thermistor sebagai pengukur suhu," kata salah satu perwakilan tim, Dhafi Alvian.

Dhafi menambahkan, inovasi yang saat ini masih dalam bentuk protype tersebut, telah pendanaan pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang Penelitian (PKM PE) tahun 2019 yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

Selain itu, tim ini baru saja mendapat gold medal dalam ajang Young Scientiest International Seminar and Expo (YSIS) 2019 untuk kategori Environment and Energy yang diselenggarakan Universitas Brawijaya pada Senin - Selasa, 24-25 Juni 2019.

Janssen beserta timnya mengaku senang karena mendapatkan hasil terbaik dalam ajang YSIS. Harapannya kaca dengan perlakuan ini dapat dikomersialisasikan dan lebih beragam penggunaannya pada berbagai bidang. Keunggulan dalam penelitian ini adalah penggunaan teknik spin coating dimana mudah, murah, dan cepat apabila dibandingkan dengan metode lain.

Pewarta : Imarotul Izzah
Editor : A Yahya
Publisher : Sandi Alam
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pacitantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pacitantimes.com | marketing[at]pacitantimes.com
Top