KITAB INGATAN 65

Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

PACITANTIMES, MALANG – Melepas yang Terkelupas

*dd nana

1/

Serupa emak yang berkeringat 

segala yang dulunya hidup dan berakhir di wajan panas, mengkerut layu dan tak lagi punya warna yang bercahaya.

Segala yang melapisi terkelupas, membuka dirinya yang asli. Menyuguhkan pemandangan yang tak pernah kau lihat saat segala yang pernah tumbuh, akhirnya berakhir di sebuah wajan panas.

Sebelum tangan emak yang terampil memindahnya dan melindas segala yang pernah tumbuh dengan batu yang ditatah mesin atau tangan yang tak pernah kita ketahui namanya.

"Sambal kesukaanmu telah siap, nak. Makanlah," ucap emak dengan dahi berkeringat.

Aku menatap sisa warna merah tomat, cabe yang menyisakan bijinya serta kulit-kulit bawang yang tampak mengambang.

Liurku jatuh. Tapi ingatanku begitu gegas berlari.

Menuju ruang-ruang yang pernah disinggahi dan paras-paras yang kerap hilang dalam ingatan.

Ingatanku akhirnya bicara : hidup yang sontoloyo. Kita hidup untuk belajar melapisi inti. Menenggelamkan kesejatian diri.

Adakah itu nikmat hidup?

Sebuah paras yang tidak lagi ku ingat menjawab : bukankah kita belajar pada penciptaan di luar diri. Yang berlapis-lapis yang meminta kehalusan. Walau itu polesan. Ini dunia kawanku, ini dunia.

Ingatan terdiam. Aku pun menyuapkan nasi dengan cocolan sambal. 

Dan parasku, kurasa mengelupas dalam setiap kunyahan. Emak masih menatapku dengan keringat yang setia di dahinya.

Sambal emak kerap membunuh kepalsuanku di rumah ini.

2/

Bagaimana rasanya tersesat

Setelah segala ingatan terlepas

Nyeri, katamu, dengan mata yang masih dipenuhi mendung sore hari.

Aku menatapnya dan berusaha mengelupas sepasang mata mendung itu.

Kau mengerang dan akhirnya jatuh dalam pelukan

Di luar malam menangkupkan jubahnya.

Yang terkelupas di tubuhmu menjadi lapisan di-ku.

3/

Cinta itu serupa bawang

Katamu tertawa sambil mengenyahkan air mata yang menggelincir di pipimu.

Berlapis-lapis dan meminta air mata.

Maka, tabahkan matamu bila ingin bersua cinta, kataku

Yang asyik menatap matamu yang memerah.

4/

Yang terlepas tentunya terkelupas

Entah nantinya menjadi apa.

Di hidup ini, kerap kita tak lagi membaca segala yang terjatuh. 

*hanya penikmat kopi lokal

 

Editor : Redaksi
Publisher : Debyawan Dewantara Erlansyah
Sumber : Malang TIMES
-->
Redaksi: redaksi[at]pacitantimes.com

Informasi pemasangan iklan
hubungi : info[at]pacitantimes.com | marketing[at]pacitantimes.com
Top