Ahmad Munib dan parang miliknya yang digunakan untuk mengancam temannya untuk berkelahi. (Foto:Polres Blitar)
Ahmad Munib dan parang miliknya yang digunakan untuk mengancam temannya untuk berkelahi. (Foto:Polres Blitar)

Ahmad Munib (32) Warga Dusun Jepun, Desa Tegalrejo, Kecamatan Selopuro, Kabupaten Blitar harus mendekam di balik jeruji besi, hanya gara-gara masalah sepele.

Persoalannya adakah Munib meminta ayam hasil panen kepada temannya. Karena tidak diberi terjadilah cekcok dengan temannya. Tak hanya cekcok mulut, Munib juga membawa senjata tajam.

Informasi dari kepolisian, kejadian itu terjadi pada Senin (7/8/2018) saat pelaku yang datang pada temannya Sutarman (60) warga Dusun Jepun, Desa Tegalrejo, Kecamatan Selopuro yang mempunyai usaha ternak ayam.

Saat itu baru saja penen ayam di peternakan korban dan pelaku meminta ayam kepada korban namun tidak diberi dengan alasan ayam sudah habis.

“Korban tidak memberikan ayamnya dan mengatakan hanya tinggal bibit ayam yang kecil-kecil saja. Dan itu membuat pelaku kecewa dan marah kepada korban,” ungkap Kasubbag Humas Polres Blitar, AKP Purwadi.

Awalnya mereka hanya cekcok mulut saja. Tapi lama kelamaan semakin memanas hingga terjadi perkelahian di kandang ayam.

“Saat perkelahian tersebut dilerai oleh salah satu warga yang ada di sana. Lalu pelaku pulang dan mengancam tetap ingin berkelahi lagi dengan memakai pisau,” ujarnya.

Karena takut, korban memutuskan melaporkan ancaman  itu ke kantor polisi. Lalu korban diantar pulang oleh Bhabinkamtibmas Desa Tegalrejo. Dan ternyata di tengah perjalanan pulang korban dan polisi dihadang oleh pelaku sambil mengayun-ayunkan sebuah parang.

“Lalu oleh Bhabinkamtimnas Bripka Joni Tri disuruh untuk memberikan parang tersebut. Tapi bukannya memberikan parang tersebut dilempar di pekarangan milik warga. Setelah dilemparkan pelaku langsung disergap dan dibawa ke Polsek Selopuro untuk diamankan,” terangnya.

Akibat perbuatannya itu pelaku dianggap melanggar UU darurat No.12 th 1951 tentang penggunaan sajam yang bukan peruntukannya. Senjata tajam tersebut digunakan untuk disalahgunakan sebagaimana mestinya seperti untuk berkelahi.

“Sesuai undang-undang tersebut pelaku diancam hukuman paling lama 10 tahun penjara,” pungkasnya. (*)