Lurah Tegal Besar Anto Purwanto saat memberikan keterangan pers. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

Lurah Tegal Besar Anto Purwanto saat memberikan keterangan pers. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)



Persoalan yang dialami Senema, janda satu anak warga Jl Imam Bonjol Tegal Besar, Kaliwates Jember, juga memantik tanggapan dari Anto Purwanto, lurah Tegal Besar. Menurut Anto, persoalan ini muncul sebelum dirinya menjadi lurah Tegal Besar.

Namun mulai Januari lalu, pihak kelurahan terus memantau dan memberikan perhatian perselisihan antara kedua warganya tersebut. “Sejak Januari, sudah kami lakukan mediasi antara keduanya. Yaitu antara Bu Ima (panggilan Senema) dengan Ali Mustofa. Saat kami datangi kali pertama, Bu Ima mengatakan kalau dirinya tidak memiliki dokumen kepemilikan tanah tersebut. Tapi warga sekitar memang mengakui ada akad jual beli antara suami bu Ima dengan pemilik pertama, yaitu H Syakur,” ungkap Anto kepada sejumlah wartawan, Selasa (25/6/2019).

Anto juga menjelaskan, untuk pernikahan antara Senema dengan Sahi, juga juga tidak ada dokumen yang mendukung seperti buku nikah maupun KK. “Keduanya sepertinya menikah secara sirri sehingga Bu Ima dalam posisi tidak menguntungkan. Jadi, yang bisa kami lakukan adalah mediasi antara bu Ima dan Ali Mustofa,” beber Anto.

Namun, mediasi yang dilakukan pihak kelurahan juga tidak berjalan mulus meskipun awalnya kedua pihak, baik Senema maupun Ali Mustofa, sudah bersedia dimediasi. “Pak Ali Mustofa sudah bersedia memberikan ganti rugi kepada Bu Ima, antara 25-30 juta. Seiring berjalannya waktu, kesepakatan ini batal sehingga mentah lagi,” tambah Anto.

Puncaknya, menjelang puasa, pihak kelurahan mendapat surat tembusan dari Peradi dan juga surat yang ditandatangani beberapa warga. Isinya menyatakan bahwa rumah kos yang didalamnya termasuk juga ada rumah tinggal milik Senema tidak memiliki IMB dan izin usaha kos.

“Selain itu, warga juga berkirim surat keberatan adanya rumah kos karena antara kos perempuan dan laki-laki tidak dipisah. Sehingga kami panggil Ali Mustofa dan memberikan arahan agar kos perempuan dan laki-laki dipisah. Dan hal ini sudah dilakukan. Namun pada Mei kemarin, surat dari satpol PP,  yang tembusannya juga ke saya, meminta agar kos-kosan tersebut ditutup,” ujar Anto.

Sehingga atas dasar surat dari satpol PP tersebut, rumah kos milik Ali Mustofa yang didalamnya juga ada rumah tinggal yang ditempati Senema ditutup. "Oleh Ali langsung digembok dan dampaknya ya ini, Ibu Senema tidak bisa masuk ke rumah. Kami juga prihatin sebenarnya, tapi mau gimana lagi,” pungkas Anto sambil menunggu langkah-langkah yang akan diambil selanjutnya. 


End of content

No more pages to load