Disnaker Kabupaten Malang mengajak peserta disabilitas yang mengikuti pelatihan membatik studi banding ke sentra batik Probolinggo (Disnaker for MalangTIMES)

Disnaker Kabupaten Malang mengajak peserta disabilitas yang mengikuti pelatihan membatik studi banding ke sentra batik Probolinggo (Disnaker for MalangTIMES)



Komitmen Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, terhadap penyandang difabel yang dirangkulnya dalam kegiatan pelatihan membatik Inklusif, beberapa pekan lalu, patut diacungi jempol.

Pasalnya, dinas di bawah komando Yoyok Wardoyo ini, membuktikan mampu lepas dari stigma khalayak umum terkait program pelatihan yang sekedar menghabiskan anggaran. Serta tidak ada tindaklanjut dan outputnya dalam memberikan bekal keterampilan kepada peserta yang dilatih.

Hal ini terlihat dari upaya Disnaker Kabupaten Malang sejak memaklumatkan diri ikut terjun dalam memberdayakan penyandang difabel di wilayahnya. Agar bisa mandiri dalam menjalankan kehidupan yang layak seperti masyarakat normal lainnya.

Salah satunya adalah pelatihan membatik Inklusif yang digelar selama sepekan beberapa waktu lalu dan dilanjutkan dengan sertifikasi. Serta studi banding dengan mengajak peserta dari penyandang difabel ke sentra batik Trinil 36 di Probolinggo.

"Ini bentuk komitmen kami sesuai arahan bapak Kepala Dinas untuk memberdayakan penyandang difabel. Setelah dilatih hampir seminggu, kita ajak langsung mereka melihat ke sentra batik Trinil di Probolinggo," kata Lilik Faridah, Kepala Seksi (Kasie) Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang, Kamis (27/06/2019).


 

Tujuan studi banding, lanjut Lilik, agar mereka belajar  lebih dekat terkait proses pembuatan batik. "Khususnya batik dengan pewarnaan alami yang sangat digandrungi pembeli. Sehingga mereka tidak hanya diberi pelatihan saja, tapi langsung bisa belajar ke sentra batik ini," ujarnya.

Selain tujuan mematangkan keterampilan membatik, hal penting lain Disnaker Kabupaten Malang mengadakan studi banding ke sentra batik Trinil Probolinggo, terkait juga kelanjutan para penyandang difabel mengaplikasikan keterampilan membatiknya menjadi sesuatu yang bernilai uang.

Sehingga, lanjut Lilik, pemilihan lokasi studi banding pun, disesuaikan dengan tujuan besar Disnaker. "Kunjungan ke Probolinggo ini juga untuk mematangkan kerjasama antara Disnaker,  LPK Ganesha sebagai lembaga pelatihan batik serta sentra produksi batik. Salah satunya dengan sentra batik Trinil 36 ini. Sehingga harapannya, produk peserta pelatihan nantinya akan dibeli dan dipasarkan di sini," terangnya.

Konsep kerjasama tersebut menjadi loncatan positif. Dimana stigma pelatihan yang dilakukan oleh Disnaker, hanya sekedar melaksanakan program, terbantahkan. Konsep itu adalah, setelah Disnaker bersama LPK Ganesha mengadakan pelatihan.

"Maka pengusaha yang telah mengikat kerjasama, salah satunya dengan sentra batik Trinil 36 Probolinggo ini akan membeli produk batik para peserta pelatihan," ujar Lilik yang juga menyampaikan, dalam konsep itu juga, peserta akan mendapat alat dan bahan dari pengusaha.
 

Di kesempatan berbeda, penanggung jawab LPK Ganesha,  Naila Chamidah menilai kunjungan peserta batik ke Probolinggo ini bermanfaat bagi peserta pelatihan. Karena  dengan begini para peserta bisa belajar secara langsung mengenai batik warna alam. 

"Selain itu peserta lebih bisa tahu style batik Trinil.  Sehingga bisa luwes dalam mengerjakan pesanan batik dari Pak Wiyono (pemilik sentra batik Trinil 36 Probolinggo, red), " ucap Chamidah.


End of content

No more pages to load